Oleh-oleh khas Malaysia

Apa yang terpikir olehku ketika menginjakkan kaki di Kuala Lumpur (KL)?

  1. Pertama adalah dengan adanya maskapai penerbangan Air Asia, yang berulang kali mendapatkan penghargaan sebagai maskapai penerbangan yang mempunyai cost terendah (Word Best Lowest Cost Airline), membuat siapa saja bisa terbang mengunjungi negara asal maskapai ini yaitu Malaysia, sesuai motonya everyone can fly.  (Bukan Promosi ya) Air Asia sering memberikan promosi-promosi menggiurkan dimana terbang ke lintas negara di Asia hanya dengan membayar 90rb-200rb rupiah saja, bandingkan dengan naik Gar*da?
  2. Kedua, Malaysia sengaja menseting menarik turis2 mancanegara untuk datang kenegaranya, gencarnya iklan di kabelTV tentang Malaysia yang seolah2 sebagai “trully”-nya Asia, pembebasan Visa untuk beberapa Negara (imigrasi memang jadi nggak dapet duit dari visa, tapi sebanding dengan uang turis2 yang dibelanjakan di negara ini), ekonomi rakyat yang terbantu.
  3. Ketiga, mode transportasi yang sangan modern dan nyaman, Bus, Trim (kereta bawah tanah), Monorail, dan tentu saja bandara, sampai-sampai dibangun bandara khusus untuk penerbangan murah (The Low Cost Carrier Terminal) atau LCCT. Boleh dibilang soal transportasi, Malaysia ini Eropanya Asia.  Setahuku hanya taksi disini yang banyak nggak mau pake argo :P.
  4. Keempat, turis-turis manca negara dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang sebetulnya tidak disukai oleh negara malaysia sendiri, misal, ketika saya jalan2 di sekitar Bukit Bintang, Kuala Lumpur (ini semacam china town dan tempatnya turis2 tongkrong) banyak dijumpai casino dan beberapa layanan Spa plus plus. Kalo dipikir notabene Negara Islam ketat kenapa masih ada ginian dan terang terangan?. Setelah ane tanya ke temen ane yg udah lama tinggal di Malaysia, ya emang gitu. Pemerintah Malaysia memanjakan turis2 mancanegara dengan diperbolehkannya tempat2 seperti itu, nah sebagai filteringnya, setiap pelanggan yang masuk ke casino atau tempat2 “gray area” itu harus menunjukkan KTP, kalo KTPnya pribumi atau beragama Islam ya tidak boleh masuk.
  5. Kelima, thereis no traffic jam like Jakarta, hehehe. Semua aman dan nyaman terkendali walaupun itu di pusat kota, tatakota dan lalulintas jalan raya ditata dengan rapi dan bersih. Polisi2 berseragam hitam juga kadan2 bersliweran masuk gang-gang untuk ngecek apa-apa yang kurang tertib, bahkan tilang parkir kendaraanpun sudah dilakukan by elektonik, pake alat yg mirip kalkulator, hehehe. Kota nyaman, Investor asing lebih suka membangun kantor atau menanam sahamnya disini.
  6. Keenam, Raksasa perusahaan minyak Malaysia yaitu Petronas, yang sudah go Internasional sehingga membuka chanel-chanel kerjasama dengan negara-negara lain terutama industri otomotif (Balap F1 dan MotoGP), mempunyai sirkuit balap berkelas internasional, sehingga mau nggak mau penyuka balap motoGP harus datang ke sini ketika perhelatan digelar disini.

Itulah beberapa hal penyebab Malaysia selangkah lebih maju dari Indonesia, walaupun beberapa hal Indonesia lebih unggul. Oya, mengenai klaim mengklaim budaya Indonesia, kalo saya lihat disini adem-adem aja. Memang budaya “asli” Malaysia sendiri kurang begitu “ada” dan kelihatan “greget”nya, jadi kebanyakan yg muncul adalah budaya asing yang sudah terserap disini, karena mayoritas penduduk asing/pendatang (china, melayu-Indonesia, India) sudah banyak yang menetap disini membawa budayanya masing masing.

Untuk lebih jelasnya kalau mau berkunjung ke KL, silahkan tanya2 ke ane, khususnya tentang penginepan dan makan enak, insyaAlloh ane kasih rekomendasi 🙂

6 Replies to “Oleh-oleh khas Malaysia”

  1. hi,
    salam kenal, ya, Bang!
    Apa ajja seh larangan2 yg adda di KL, tapi di Indon gak dilarang??
    Sblumny, tnks ….

  2. Itulah beberapa hal penyebab Malaysia selangkah lebih maju dari Indonesia, walaupun beberapa hal Indonesia lebih unggul. Oya, mengenai klaim mengklaim budaya Indonesia, kalo saya lihat disini adem-adem aja. Memang budaya “asli” Malaysia sendiri kurang begitu “ada” dan kelihatan “greget”nya, jadi kebanyakan yg muncul adalah budaya asing yang sudah terserap disini, karena mayoritas penduduk asing/pendatang (china, melayu-Indonesia, India) sudah banyak yang menetap disini membawa budayanya masing masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *