ABUJA (Asal Bukan Jakarta)

Sejak Cawang/UKI ditutup untuk bus-bus antar kota dan semua transit penumpang dipindahkan ke Terminal Kampung Rambutan, kemarin saya berangkat dari Jakarta Pusat ke Purwakarta ditempuh salam waktu 4 jam.

Berangkat dari Sarinah jam 10 pagi, nunggu sebentar untuk cari metromini atau kopaja Tanah Abang-Kampung Rambutan tidak dateng-dateng juga. Akhirnya jam 11 memutuskan  untuk naik Busway, disamping ngadem, bersih dan anti macet, secara hari itu ada kampanye putaran terakhir SBY-Budiyono di Gelora Bung Karno tentunya jalanan dijamin macet.

Kalau naik busway dari Sarinah mau ke Kampung Rambutan harus transit beberapa kali; di Dukuh Atas, Matraman, dan Kampung Melayu, baru ke Kampung Rambutan, karena tidak bisa lagi turun di UKI . Paling menyebalkan adalah jalan dari Kampung Melayu ke Kampung Rambutan, lewat pasar Kramat Jati yang crowded, menyebabkan jalannya busway lelet dan empot-empotan kayak uler, sampai di Terminal jam 1 siang, wat de hell? 2 jam hanya untuk sampai terminal?

Pulangnya juga sama, malah lebih parah, menunggu busway di halte Kampung Rambutan aja setengah jam lebih baru dateng, trus jalan lewat pasar kramat jati semrawut buanget deh, pol-pol itu buswe’ jalan 20km/jam, pas di Halte Kampung Melayu nunggu tuh Buswe’ suk sampai 1 jam. Sampai-sampai ada bapak-bapak disebelahku uring-uringan emosi sendiri.

Buat kalian-kalian yang nyari kerjaan atawa tempat cari makan kalo bisa jangan di Jakarta deh, kota semrawut dijamin bikin stress. Apalagi ditambah harga kebutuhan dan properties selangit tak terjangkau akal manusia yang bergaji standar dan stagnan.
Dinegara-negara lain, ibu kota dibangun sedemikian rupa agar nyaman disinggahi dan ditempati, karena ibu kota adalah “wajah” meet & great lah istilahnya, yang pertama dilihat oleh turis-turis asing, sehingga memiliki kesan baik. Tapi di Jakarta jauh dari itu, bukanya perbaikan malah semakin parah.

Ironis, di pedesaan suasana asri, sejuk, airnya jernih dan tenang tapi harga tanah & properties murah meriah. Di jakarta, udah sumpek, macet, kotor, bising, macet, tapi harga tanah dan properties tak terjangkau akal manuasia bergaji standar seperti saya.

2 Responses to “ABUJA (Asal Bukan Jakarta)”

  1. ropix Says:

    test

  2. ropix Says:

    ngetes posting comment

Leave a Reply