Mudik tlah tiba – mudik tlah tiba.
Hari-hari terakhir Ramadhan di Jakarta serasa jasat tanpa pikiran, karena pikiran sudah melayang mudik duluan kerumah Semarang dan Purworejo sana, hahaha
Malam ini, di akhir-akhir Ramadhanku ini, aku sempatkan untuk ‘itikaf di masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia. Karena malam sebelumnya gagal gara-gara siangnya kecapekan dan pusing. Sebelumnya ngga ada persiapan, karena pada waktu akhir witir tarawih disana Imam membacakan hafalan QS Ar-Rahman sambil sesegukkan menangis, Ar-Rahman yang kata Ms Greenku adalah “surat cinta”, tak terasa aku yang makmum dibelakang terasa tersentuh, ada getaran dasyat membangkitkan iman yang kadang-kadang tidur dengan lelapnya ini, palagi saat ayat-ayat ” Fabi ayi aalaairobbikuma tukadziban” diulang-ulang, Sungguh Nikmat Tuhan manakah yang telah engkau dustakan? (bahkan dibulan suci ini, bulan penuh rahmat ini, yang sebentar lagi berakhir), jika kau hitung nikmat Alloh yang telah Ia berikan sampai detik ini, sungguh aku merupakan manusia hina, kerdil yang tidak tau berterimakasih.
Keinginan untuk ‘Itikaf menjadi semakin kuat, walaupun besok tetap harus masuk kerja, aku tetap teguh pendirian, toh juga tidak harus tak tidur semaleman.
Setelah usai tarawih, aku mendaftar di stand yang memang dikhususkan untuk mendaftar peserta ‘itikaf, tujuannya adalah untuk pendataan dan pemberian kupon untuk makan sahur, dengan memberi infaq 15rb/hari aku reservasi untuk 2 hari.
Setelah balik ke kos untuk ganti kostum (gamis) + jaket + sarung + tas berisi botol minum dan sedikit makanan ringan.
Hmmm, sungguh pengalaman spiritual yang baru, ketika harus dengerin kajian sampai larut malem, tilawah danĀ tahajud, untuk tahajudnya harus siap-siap kakinya pegal, karena Imam al hafidz itu akan bacakan surahnya sampai 3 juz, hehehe
Untuk tidurnya udah empet-empetan karena banyaknya teman2 yang ikut ‘itikaf disitu, setelah sahur dan subuhan sebenarnya ada kajian lagi, tapi karena dah nguantuk buanget, aku balik ke kos tidur bentar seblum berangkat ke kantor.




