Khitbah Versiku, akan kuingat sepanjang hidupku
“….. berkenankah engkau menjadi rembulan di langit hatiku? hati yang merindukan lembut cahayanya? Berkenankah engkau menjadi Aisyah-ku? seperti kehadiran Aisyah r.a. dalam kehidupan Nabi Saw.? Berkenankah engkau ….. menjadi istriku?
Bidadari itu terdiam mendengar apa yang kukatakan. Ia tak berucap meski hanya sepatah kata, pandangannya menerawang angkasa. Sejenak kemudian ia menatap mataku, lalu ia alihkan pandangannya ke pepohonan yang tumbuh di sekeliling kami. Air mata … mengalir lembut … lembut sekali … di pipinya.
ini versi novel “Rembulan di Langit Hatiku”
———————————————————————
Ini versiku dan dia:
SMSdia: would you be..dear??
SMSdia: my only one?
SMSku: would you be my wife, dear?? (malu)
SMSdia:Dilamar nih ceritanya?
SMSku: InsyaAlloh dengan segala ketulusan hatiku : )
SMSdia:Lamarnya lewat sms?
SMSku; Iya ^_ ^ (mas malu) dari kemarin belum bilang kata2 itu.
Malam itu, 21 Agustus 2008, jam 21:10 Kuberanikan diri menelponnya, bismillah ku ucapkan dalam hati.
Aku: Assalamu’alaikum Adek
Adek: Wa’alaikum salam
Aku: Dek, maukah kau menjadi istriku kelak (suaraku setengah berbisik, kukumpulkan segala pengharapan yang cukup besar pada kata-kata ini, sehingga lidah begitu berat melafalkannya)
(Dia diam sejenak di seberang telpon sana, hatiku semakin kencang berdetak atau berhenti sama sekali, aku tak memperhatikanya pikiranku terpusat pada heningnya diseberang sana)
Adek: Bismillahirohmanirrohim, InsyaAlloh adek mau.
Aku: Alhamdulillah, terimakasih adek. (hatiku gerimis, tidak sadar aku menghitbahnya)
….pembicaraan seperti biasa beberapa saat
Aku:Udah dulu ya, wassalamu’alaikum.
Adek: Wa’alaikum salam.
SMSdia: : ) speechless.. , i ‘ll be patient to waiting for.
Hmmmmm, soooo sweeeeeeeeeeeeeeeeet




