Sebuah Pelajaran Bagi Mereka yang Mau Berpikir

Hai Jum’at sore ane main ke Purwakarta untuk mengunjungi ponakanku Aulia Azzahra, anaknya lucu dan pintar. Umurnya baru 4 tahun dan baru masuk TK nol kecil, tapi dia udah pandai ngeja huruf2 alfabert dan ngetik pake laptop. Kubawain dia susu kotak, biskuit2, oreo, dll, aku ajak juga dia ke alfamart untuk memilih apa yang dia suka, es krim, koko krunch dll. Pokoknya lengkap dah, apa lagi mbahnya dari purworejo juga bawain brownies dll.


Pulang dari Purwokarta ane naik bis Purwakarta-Bekasi, Bekasi-Tanah Abang, di Bus Bekasi-TA, ada pengamen seorang perempuan paruh baya bermain gitar kecil dan dua anaknya, 1 digendong berumur sekitar 1 tahun dan 1 lagi yang membagikan amplop dan ikut menyanyi kira-kira berumu 5 tahun. Aku terfokus sama anak kecil yg membagikan amplop tersebut, badannya kecil ceking, ingusan dan rambut kecoklatannya dikucir atas sambil menyangklong tas samping kecil yang sama kecil dan lusuh dengan bajunya. Ane meraba2 tas ane untuk mencari-cari sesuatu, mungkin uang receh, kutemukan uang seribuan dan sebuah coklat kecil oleh2 temen kantor dari singapur.

Waktu melintas di kursi tempatku duduk, aku memberikan uang  dan coklat kecil tersebut, sesaat dia berhenti dan membaui coklat yg bungkusnya asing bagi dia. “Ini apa Om?” katanya. “Itu co-klat” kataku sambil melafalkan mulutku dengan jelas agar tanpa mendengarpun ia bisa mengerti karena suara bus yang bising. Selesai mereka bertiga menyanyikan lagu terakhi dari Wali Band, aku sempat denger si adiknya tadi girang dan membagi coklatnya ke adik satunya yang kecil. Akhirnya ane turun di depan Sarinah Thamrin, jalan kaki menuju kantorku di Medan Merdeka Barat untuk mengambil motor. Di depan halte dekat Menara Thamrin, aku melihat sebuah plastic kresek putih kecil di tengah trotoar, sangat mencolok sebenarnya.  Ane iseng mengambilnya untuk ane masukin ke tempat sampah deket halte. Waktu tak pungut kok agak berat ya, jangan-jangan sampah kotoran basah semacam eek, atau apa gitu. Waktu tak buka tuh plastic, jreng…jreng…, ternyata isinya adalah Silver Queen Chunky Bar.

Wow..wow..wow, aku langsung tertegun, pelajaran apa lagi ini yang diberikan Alloh ke ane. Sepanjang  jalan pulang ke kos tak hentinya aku berpikir dan bertasbih.

Tidak ada kebetulan di dunia ini. Alloh telah menukar coklat kecilku dengan coklat lain yang besarnya 10x lipat.

One Reply to “Sebuah Pelajaran Bagi Mereka yang Mau Berpikir”

  1. seperti crita ane juga bang..
    waktu itu ada tetangga kosan yg meminjam uang Rp 400.000 dengan alasan katanya untuk biaya kelahiran istrinya… dengan perasaan sdikit cemas dan kasihan, “ni tetangga baru bbrapa hari kenal kok udah minjem..klo ga dibalikin gmn.. gajiku kn kecil..gaji pertama pula.. ya udah lah.. bismillah”..alhamdulillah 2mgg kemudian sepulangnya dr kmpung dia mngmbalikan uangnya..smbil mngucpkn terima kasih.
    2mgg telah berlalu.. tiba2 aku sakit yg mmbuatku mwmutuskan utk bterhenti bekerja..dan harus segera dioperasi.. dengan perasaan bingung pula “dari mn aku hrs mndptkan uang utk biaya operasi ini. ya Alloh.. baru 2 bulan Kau beri aku pekerjaan..tiba2 Kau beri sakit.. dan aku tidak punya biaya utk ni semua.. ya Alloh.. tolong saya..”
    Alhamdulillah.. tnp diduga2 pas. kebetulan dirumah sakit itu lagi ada program biaya perawatan gratis.
    dgn segera aku mmtuskan untuk bersedia dioperasi.
    stelah 3 hr pasca operasi.. alhamdulillah aku bs smbuh dan dibolehkn pulang.. abis itu iseng2 aku menanyakan kpd pihak.rumah sakit sbrnya berapa sih biayanya?.. mrk mengtakan.. total semuanya Rp 4.000.000,-
    subhanalloh..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *